Beramal Jama’i

 Ada satu analogi tentang amal jama'i yang sangat berkesan bagi saya dan tidak lupa juga saya sering bagikan kepada mutarobbi-mutarobbi saya. Analogi tentang Kapal = Jama'ah. Analoginya seperti ini ketika berbicara dengan amal jama'i suka maupun tidak suka kita akan bersinggungan dengan istilah dakwah. Jujur saja sebelum saya berkenalan dengan jama'ah kata dakwah terasa begitu "menyeramkan" dan hanya bisa direalisasikan oleh mereka- meraka yang ber"gelar" ustadz dan ustadzah. Sampai pada akhirnya yang mendengar kalimat "sebelum jadi apa pun di dunia ini kita adalah da'i". Ketika mendengar kata da'i disana otomatis akan terkait erat dengan dakwah. Dari sana saya mulai menganggap dakwah bukan lagi hanya urusan orang-orang yang ber"gelar" ustadz/ustadzah tapi tugas semua manusia yang memahaminya.

            Kembali lagi pada analogi amal jama'i, kita analogikan samudera yang luas itu adalah medan dakwah yang nyata memang sangatlah luas dan pulau yang ada di ujung samudera itu ada tujuan dari dakwah itu. Secara sederhana saya memahami tujuan dakwah itu adalah mengembalikan lagi posisi bahwa ISLAM adalah rahmatanlilalamin dan para pengembangan dakwah tujuan mereka adalah agar ALLAH ridho akan kehidupan mereka selama ada didunia hingga kelak surga ALLAH akan menjadi tempat kembalinya.
            Ketika kita telah menganalogikan samudera sebagai medan dakwah, maka yang selanjutnya kita akan menganalogikan kapal sebagi jama'ahnya. Kenapa malah ke jama'ah? ya karena amal jama'i itu dilakukan secara bersama-sama (berjama'ah). Nah untuk mengarungi samudera itu akankah kita berenang seorang diri atau mencari dan masuk ke dalam kapal yang sekiranya akan mengantarkan kita lebih cepat dan selamat sampai pada tujuan? Kalau saya jelas akan mencari dan masuk ke dalam kapal yang terbaik menurut penilaian saya. Setelah lam mengarungi samudera tidak menutup kemungkinan kapal yang kita anggap terbaik pun akan perlahan lapuk karena termakan usia dan cuaca hingga akhirnya mungkin saja membuat beberapa orang yang di dalam nya merasa tidak nyaman maka saat itu akan terjadi beberapa pilihan menurut saya, pertama ada yang memilih berdiam diri saja menjalani apa adanya seolah-olah semuanya baik-baik saja, kedua ada yang mencoba memperbaik kapal tersebut dari dalam meskipun kecil dan perlahan, dan ada pula pilihan yang ketiga yang memilih untuk terjun dari kapal karena menganggap dengan berenang seorang diri dia akan lebih cepat sampai pada tujuan daripada hanya menjadi penumpang dari kapal yang sudah lapuk itu dan mungkin saja masih ada banyak pilihan yang lain. Waktu itu yang sangat terkenang diingatan saya adalah pilihan yang ketiga. Orang yang memilih mengarungi samudera itu seorang diri dengan kemampuan dirinya sendiri mungkin saja untuk sesaat akan bergerak lebih daripada kapal yang ia tinggalkan, tapi banyangkan berapa lama ia mampu bertahan mengarung samudera itu.
            Nah, dari sana mendapatkan keyakinan bahwa dalam kondisi sesulit apa pun beramal jama'i (bersama-sama) untuk meraih tujuan mulia itu jauh lebih baik daripada berjuang seorang diri, toh kapal itu tidakan selamanya rusak, selama masih ada yang beramal jama'i memperbaikinya dan tetap membuatnya berjalan. Itulah sekilas analogi amal jama'i yang saya temukan semasa "perjalanan" ini. Semoga bisa menjadi gerbang pembuka pemahaman kita semua akan urgensi amal jama'i.
 
 Oleh Ustadzah Ucy Herawati

Next Recommended

Baca juga :